banner
banner
banner
Rabu, 8 September 2010
mimbar

  Opini  
 

Selasa, 16 Maret 2010

Pribadi Adi Paringgo

Bahaya Terorisme Masih Menjadi Ancaman

Oleh : Pribadi Adi Paringgo

Bahaya terorisme terus mengancam Indonesia. Meskipun sudah banyak tokoh teroris yang tewas dan ditangkap di Indonesia. Untuk itu, masyarakat dan aparat keamanan harus selalu waspada terhadap bahaya terorisme.

Beberapa waktu lalu, di awal Maret 2010 kita dikejutkan bahwa teroris telah melakukan latihan militer di Aceh. Dalam penggerebegan polisi di Bukit Jantoi, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam, belasan tersangka teroris tertangkap. Kemudian di Pamulang, tokoh teroris Dulmatin berhasil ditembak mati bersama dua pengawalnya oleh polisi. Sekarang ini polisi berusaha mengejar anggota gerombolan teroris di wilayah Aceh dan wilayah Indonesia lainnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengingatkan bahaya terorisme yang masih mengancam Indonesia, meskipun para pelaku teror telah ditangkap. Terkait itu, pihaknya meminta agar terorisme tidak boleh hanya diperhatikan bentuk terornya saja, dengan pendekatan keamanan, namun juga isme-nya atau ideologinya harus diselesaikan. Dunia sekarang menghadapi ismenya daripada wujud terornya dan ini tidak bisa diselesaikan oleh Barat, kecuali dengan moderasi Islam. Untuk itu, diharapkan NU menjadi benteng terdepan menangkal aksi terorisme ini. Kita punya nilai dasar Pancasila dan itu yang dikibarkan NU.

Menurut KH Hasyim Muzadi, NU melihat ada empat pendekatakan untuk melihat, mencegah dan mengatasi terorisme. Pertama, memahami secara tepat kondisi-kondisi yang menimbulkan penyebaran terorisme. Kedua, mencegah dan memberantas terorisme. Pendekatan ketiga, adalah membangun kapasitas negara dalam penanggulangan terorisme. Keempat, menjamin penghormatan terhadap HAM dan aturan hukum.

Banyak hal yang menyebabkan munculnya terorisme dan itu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat yang kurang dipahami negara. Terorisme tidak selalu muncul atas dasar agama. Fundamentalisme atau liberalisme tak akan efektif untuk hilangkan radikalisme. Terorisme, bukanlah Islam dan Islam bukanlah terorisme.

Timbulnya terorisme di kaum Muslimin adalah kesalahpahaman terhadap hakekat dari ajaran agama itu sendiri. Jadi tidak melihat keutuhan Islam secara komprehensif, namun pemahaman yang sepotong-sepotong. Salah pemahaman ini kemudian berkembang menjadi penyalahgunaan agama. Terkait terorisme itu, sebetulnya banyak faktor-faktor berawal dari non agama. Namun menggunakan umat beragama dan menggunakan tema-tema agama.

Menurut mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Hendropriyono dalam Seminar bertajuk `Reformulasi Pandangan NU terhadap Terorisme` di Gedung PBNU Jakarta, Kamis (4/3/2010), untuk mengatasi masalah terorisme diperlukan penanganan serius. Salah satunya dengan RUU Intelijen, yang mengatur bagaimana memberdayakan pelaku teror. Selain itu, aksi terorisme yang terjadi karena tidak adanya benteng kebangsaan yang penting untuk menangkal segala aksi radikalisme.

Saya berharap masalah terorisme di Indonesia segera teratasi. Namun seluruh elemen bangsa dan aparat keamanan tetap waspada terhadap bahaya ancaman terorisme. Terutama mewaspadai bahwa terorisme masih ada di sekitar kita.

Pribadi Adi Paringgo
Jl. Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Email: pringgoadi@plasa.com

 
Artikel lain :
Rabu, 8 September 2010
ronald
Rabu, 8 September 2010
wawan
Selasa, 7 September 2010
Gracelina
Selasa, 7 September 2010
Ade Rachman
mimbar

Copyright 2004 jagat-isu.info