banner
banner
banner
Rabu, 8 September 2010
mimbar

  Opini  
 

Rabu, 10 Maret 2010

Vino Siregar

Teroris Di Indonesia Belum Habis

Oleh : Vino Siregar

Awalnya, masyarakat tidak begitu memperhatikan berita-berita tentang teroris beroperasi di Aceh. Mereka lebih fokus pada perkembangan berita tentang Bank Century. Kasus dana talangan triliunan rupiah ini sangat menarik dan dramatis dengan saling gontoknya anggota DPR. Akan tetapi begitu ada korban pihak Polri yang meninggal dalam serbuan di Aceh, kemudian adanya penyergapan teroris di daerah Pamulang, Jakarta, mulailah masyarakat tersadar bahwa gangguan teroris ini ternyata belum habis di Indonesia.

Meski Noordin M. Top telah terbunuh, fakta telah membuktikan bahwa gerakan terorisme di Indonesia masih tetap ada, bahkan mungkin makin subur. Ini sekali lagi membuktikan teori bahwa sel teroris akan berkembang terus melalui inspirasi dan pendidikan kader meski tokoh-tokohnya telah tewas. Di Indonesia, Dr. Azahari dan Noordin M. Top adalah tokoh teroris yang paling dicari. Tetapi dikhawatirkan mereka telah menularkan berbagai ilmunya kepada anak buahnya di Indonesia. Ilmu tersebut beragam, mulai dari cara merakit bom, merekrut pengikut sampai dengan teknik menyelinap di kerumunan.

Kasus di Aceh harus diperhatikan oleh pemerintah di Indonesia, sebab ada kecurigaan bahwa aktivitas teroris di Aceh itu seterusnya akan menjadi gangguan di Selat Malaka. Kita tahu, selat ini merupakan selat paling sibuk di dunia dengan hampir 70 ribu armada yang lalu-lalang setiap tahun. Teroris mungkin menggunakan metode perompakan untuk mencari dana seperti apa yang terjadi di perairan Somalia. Apabila hal itu benar terjadi, Indonesia akan menjadi sorotan dunia. Memang ada kemungkinan bantuan internasional untuk mengamankan perairan ini, tetapi kita tetap disorot karena kebobolan dalam hal gerakan teroris.

Yang lebih perlu diperhatikan lagi bahwa gerakan teroris di Selat Malaka telah mencerminkan adanya perluasan lahan gerak teroris. Jika sebelumnya teroris di Indonesia bergerak di darat dengan menghancurkan segala yang ada di darat, apabila indikasi di Selat Malaka benar, teroris itu bergerak di wilayah perairan. Wilayah operasional mereka bisa jadi bukan sekadar Selat Malaka saja tetapi seluruh perairan di Indonesia.

Negara kita adalah negara kepulauan dengan sekitar 2/3 wilayannya perairan. Dengan demikian, praktis wilayah Indonesia telah menjadi wilayah operasional teroris. Jika di darat mereka telah mengobok-obok perkotaan, pegunungan dan perkampungan di desa, mengawini gadis-gadis, maka lautan pun akan disasar demikian. Tidak hanya samudera yang dikuasai tetapi lautan bahkan selat pun dimungkinkan untuk dikuasainya. Tidak hanya perairan dalam tetapi perairan dangkal mungkin dikuasai. Implikasi lebih jauh, bukan hanya kapal-kapal yang dirompak, tetapi aktivitas nelayan juga menjadi sasaran.

Kita patut mengapresiasi kinerja Densus 88 yang berhasil melumpuhkan teroris di dua lokasi di daerah Pamulang, Selasa (9/3) kemarin. Namun perlu diingat bahwa prestasi ini bukan semata-mata hasil dari Densus 88, banyak pihak-pihak lain yang ikut berjasa dalam upaya penumpasan terorisme di Indonesia. Pihak-pihak intelijen dari sejumlah instansi juga ikut berperan serta, terutama dalam memberikan informasi-informasi terkait pergerakan dan perkembangan sel-sel terorisme di Indonesia. Dapat dikatakan penggerebekan di Pamulang sebagai pengembangan dari penggerebekan teroris di Aceh yang notabene adalah hasil dari gabungan informasi intelijen sejumlah instansi.

Peristiwa di Aceh dan Pamulang memberikan pelajaran besar bagi kita bahwa tantangan terhadap teroris tidak akan pernah berhenti di Indonesia. Kompleksitasnya sistem budaya, luasnya wilayah serta beragamnya pemikiran manusia membuat fenomena teroris tersebut tetap ada. Dengan hanya menghabisi tokoh-tokoh teroris tidak akan dapat memberantas terorisme di Indonesia, namun juga diperlukannya upaya sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesadaran dalam mengawasi dan menjaga keamanan wilayah mereka masing-masing. Dengan cara itu setidaknya kita bisa menekan pergerakan terorisme di Indonesia.

Vino Siregar
Pemerhati Masalah Politik dan Sosial
Jl.Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Email: vino_siregar@plasa.com


 
Artikel lain :
Rabu, 8 September 2010
ronald
Rabu, 8 September 2010
wawan
Selasa, 7 September 2010
Gracelina
Selasa, 7 September 2010
Ade Rachman
mimbar

Copyright 2004 jagat-isu.info