banner
banner
banner
Rabu, 8 September 2010
mimbar

  Tajuk Detail Artikel Tajuk  
 

Minggu, 17 Agustus 2008

KEMERDEKAAN BAGI ORANG DESA

Oleh : Gerry

Awal era reformasi, Taufik Ismail dalam puisi Puisi paling pendek -nya berjudul “Merdeka” (1998) menulis :

Merdeka! /
Belum /

Lima tahun setelah reformasi bergulir, Taufik Ismail kembali mempertegas tema merdeka melui puisi berjudul “Aku Malu Menatap Wajah Saudaraku Petani” (2003). Napas puisi Taufik Ismail ini menjadi ajang pencerahan bersama, di tengah kesibukan seremonial HUT kemerdekaan RI yang ke-63 tahun ini. Puisi itu menyimpan 1001 rahasia kehidupan orang desa yang tak terjamah. Separuh dari warga kita adalah orang desa. Tetapi, apakah warga desanya sungguh “merdeka”?

Inilah ruang permenungan kita. 63 tahun kita menikmati kemerdekaan tapi kemerdekaan warga desanya, jauh dari zeitgeist (jiwa kemerdekaan) itu sendiri. Ada banyak penjelasan tentang makna kemerdekaan bagi sebuah bangsa. Taufik Ismail, coba membawa kita mendekatkan diri kepada orang-orang di desa. Ia menggambarkan desa abad XXI, sebagai…belum merdeka, bahkan sama buruknya dengan hidup orang desa di abad sebelumnya. Adakah berita baik datang dari desa?

Banyak krisis yang pernah mengutuk bangsa ini, seperti krisis iklim, krisis politik, krisis hukum, krisis BBM, krisis pangan, dan orang desalah yang selalu saja jadi “korban”. Lihatlah, ketika petak-petak sawah mengering, serangan hama datang, pupuk langka, harga panenan ambruk, nelayan tidak bisa melaut karena tak mampu beli solar, dolar menguat gara-gara korupsi politisi. Lalu diupayakan agar korban di desa bisa diminimalisasi, melalui soiusi darurat BLT dan solusi semi darurat IDT.

63 tahun bangsa ini merdeka, tetapi orang desa belum bisa menentukan harga jualan atas beras, kacang-kacangan, sayur-mayur, ikan segar, ayam kampung, kambing yang mereka panen dari desa mereka sendiri.

Sebagian orang desa coba-coba mengais hidup di kota, tetapi kehadiran mereka dipandang mengotori kota, terutama yang tiduran di emperan toko, atau di bawa kolong jembatan. Memang orang desa, tempatnya di desa. Tapi, orang kota tidak bertanya kenapa orang desa mulai mengembara ke kota. Pipa jumbo dari kota langsung menyedot mata air orang desa. Kayu-kayu bangunan, dari rumah jabatan bupati sampai kantor pak lurah, juga ditebang dari hutan orang desa. Tapi, orang desanya tinggal di gubuk reot. Mungkin ini adalah fenomena yang disebut Mao Zedong sebagai “Kota Mengepung Desa” (1923). Semuanya “dijarah” dari desa, tapi, warga desa ditinggali tanpa akses akseleratif yang seimbang dan manusiawi.

/“….Aku malu kepadamu, wahai saudaraku petani/ Hidup kami di kota disubsidi oleh kalian petani...../sedangkan pakaian, rumah, dan pendidikan anak kalian,/ tak pernah kami orang kota, ganti memberikan subsidi”/
cetus Taufik Ismail dalam puisi berjudul “Malu (Aku) Menjadi Orang Indonesia”.

Lantas dengan apa, bangsa ini dapat memerdekaan warga desanya? Dengan subsidi BBM, pupuk gratis, obat hama gratis, alat tangkap murah bagi nelayan, sebanyak mungkin bikin irigasi dan mesin penyedot air, jaringan listrik, sekolah, puskesmas dan klinik, sandang-pangan tercukupi, transportasi terjangkau. Sayangnya, upaya untuk memenuhi kebutuhan pembangunan di desa sering hanya dipandang sebagai proyek yang tak jarang terkena “hama” korupsi, aksi sunat-menyunat anggaran, mulai dari kepala desa hingga DPR pusat bahkan sampai ke jajaran menteri.

Ketika desa menjadi kampung mati, maka negeri ini, sebesar apapun ia, tidak lama lagi akan berada di tebing kehancuran. Karenanya bangsa ini harus dimerdekakan mulai dari desa. Semoga harapan ini ditangkap oleh para politisi yang akan bertarung pada Pemilu 2009 untuk menggagas sesuatu yang baik bagi warga desa. Bukan dengan janji kosong di panggung kampanye, tetapi aksi nyata sekarang juga. Kalau saja 38 parpol yang ada saat ini menyisihkan separoh dari anggaran kampanyenya untuk membangun desa, maka pada pemilu 5 tahun mendatang, niscaya sudah ada berita baik datang dari desa***


 
Artikel lain :
KEMERDEKAAN BAGI ORANG DESA
Gerry
Perlindungan TKI
PR
Hari Guru
PR
Dugaan Suap
PR
mimbar

Copyright 2004 jagat-isu.info