|
Jumat, 14 September 2007
“Gempa Bumi”
Oleh : PR
BELUM pulih rasa takut warga Situbondo, Jawa Timur, akibat gempa yang merobohkan ratusan bangunan pada Senin (10/9), kita dikejutkan lagi dengan peristiwa alam serupa di Provinsi Bengkulu, Sumatra. Kejadian Rabu (12/9) petang itu sungguh mengharu biru karena terjadi ketika seluruh umat Muslim akan memasuki ”pintu gerbang” bulan suci Ramadan. Bahkan, kejadiannya bersamaan dengan sebagian besar warga di daerah itu akan menjalankan ibadah salat Tarawih.
Apabila membaca dan mendengar laporan sementara, kita patut bersyukur karena gempa yang berskala cukup besar, yakni 7,9 skala Richter (SR) dengan pusat gempa di laut dan tak jauh dari daratan, tidak banyak menelan korban jiwa. Hanya bangunan yang mengalami rusak parah. Barangkali ini karena secara kebetulan gempa terjadi pada petang hari ketika warga belum terlelap tidur. Mereka mampu menyelamatkan diri.
Hal lain yang patut disyukuri karena gempa yang berpusat di laut ini tidak menimbulkan gelombang tsunami. Padahal, guncangan hebat juga melanda Sumatra Selatan, Sumatra Barat, bahkan getarannya terasa hingga ke Jakarta dan Singapura. Menurut para ahli, tsunami tidak terjadi karena kejadian pergeseran lempeng bumi kali ini mendatar atau horizontal, tidak menunjam (subduksi). Tsunami memang paling ditakutkan karena ada pengalaman buruk sebagaimana terjadi di Aceh.
Akan tetapi, sekalipun menurut laporan sementara korban jiwa akibat gempa di Bengkulu sedikit dibandingkan dengan kejadian gempa yang menimpa Aceh dan Yogyakarta, bukan berarti berkurang rasa empati dan perhatian kita pada kejadian itu. Terhadap keluarga korban, tentu kita ingin menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Mereka agar diberi ketabahan dan kesabaran. Kalaulah ini dianggap sebagai sebuah ujian, memang sungguh terasa sangat berat di tengah kodisi dan situasi yang serbamemprihatinkan. Akan tetapi, barangkali hanya dengan tetap bertawakal dan lewat kesabaran, beratnya beban batu ujian akan terasa ringan.
Bencana itu memang membuat kita merenung dan bertanya, mengapa peristiwa tersebut terjadi di ambang memasuki puasa? Bukankah dalam Ramadan seharusnya umat Muslim bersuka cita karena di bulan inilah kesempatan untuk meningkatkan kualitas beribadah, mengingat pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya dan nilai pahala jumlahnya berlipat-lipat? Akan tetapi, mengapa kebahagiaan ini harus terganggu oleh bencana alam yang tak terkira menakutkannya? Apa makna dari semua ini?
Pada akhirnya, kita hanya bisa memahami, bahwa ini barangkali sebagai bahan introspeksi dan untuk mengkaji diri, betapa kita sebagai manusia kecil di hadapan-Nya. Jika yang Mahakehendak ingin membuat sesuatu di bumi, mudah saja dan kapan saja. Pada ujungnya harus dimaknai pula bahwa ini sebagai peringatan pada kita sebagai bangsa agar tidak putus-putus mempererat solidaritas. Bencana itu justru peluang untuk kita berlomba-lomba dalam kebaikan, terlebih dalam Ramadan. Bukankah puasa pada hakikatnya adalah agar kita merasakan kefakiran dan penderitaan juga orang lain? Oleh karena itu, mari jadikan bencana Bengkulu dari aspek kebangsaan untuk semakin mempererat kesatuan, sementara dari sisi spiritual untuk semakin meningkatkan kualitas keimanan kita.
|