|
Minggu, 22 April 2007
Menyayangi Bumi
Oleh : sock
Seharusnya peringatan Hari Bumi menjadi momen untuk benar-benar menghentikan penindasan terhadap bumi, kecuali kalau kita sudah tidak betah lagi tinggal di bumi.
BUMI tempat kita hidup, semakin rusak. Bahkan, kerusakannya setiap tahun terus meningkat dan kondisi bumi semakin parah. Gas rumah kaca penyebab pemanasan global, seperti diungkapkan Prof. Otto Soemarwoto, kadarnya makin tinggi. Suhu atmosfer Bumi telah naik. Iklim pun berubah. Frekuensi dan intensitas badai makin meningkat. Permukaan air laut naik. Abrasi pantai oleh gelombang laut makin ganas. Begitu pula ozon, zat perusak, kadarnya meningkat.
Dari tahun ke tahun jumlah kejadian bencana alam di muka bumi terus meningkat. Jika tahun 1993 tercatat 225 bencana, tahun 2002 menjadi 375 kejadian. Selama kurun waktu hampir 10 tahun itu, terjadi 2.654 kejadian bencana, yakni banjir 40%, angin ribut 30%, kekeringan 10%, tanah longsor 7%, kebakaran hutan 5%, temperatur ekstrem 5%, dan lain-lain termasuk gempa bumi dan letusan gunung api 3%. Kerugian yang ditimbulkannya cukup fantastis. Mencapai 608 miliar dolar AS.
Indonesia pun termasuk salah satu negara yang tengah mengalami krisis ekologi. Menurut catatan UNFAO, dalam periode tahun 2000-2005, Indonesia kehilangan hutan seluas 1,5 juta hektare per tahun. Bahkan, menurut Conservation International Indonesia dan Walhi, laju kerusakan hutan Indonesia lebih dari 3 juta hektare per tahun. Dampaknya hampir 75% dari 136 daerah aliran sungai (DAS) besar di Indonesia menjadi kritis.
Kita tahu bahwa bumi tempat kita berpijak sudah sangat rusak dan itu bisa mengancam kehidupan di muka bumi. Namun yang menyedihkan, kita selama ini tidak begitu peduli terhadap keadaan ini. Padahal, ancaman akibat kerusakan bumi ini, juga tidak kalah seremnya. Seperti dituturkan Prof. Otto, manusia di muka bumi bisa punah. Tapi walaupun ancaman itu setiap tahun semakin terasa, tapi kita semakin tidak peduli dan cuek saja menghadapi gejala-gejala kerusakan alam ini. Bahkan, bumi terus dicemari dan dirusak.
Kita memang setiap tahun selalu memperingati Hari Bumi setiap tanggal 22 April. Akan tetapi, tentu saja tidak cukup hanya dengan cara itu. Buktinya peringatan Hari Bumi selalu diperingati sejak tahun 1970, namun karena semua tak acuh saja terhadap kerusakan bumi, bumi tidak pernah semakin baik, malah sebaliknya. Kita perlu melakukan langkah agar kerusakan hutan dan bumi tidak semakin parah yang akan bisa mengancam manusia dan menyengsarakan anak cucu.
Bila perlu, pemerintah melakukan jeda pembalakan hutan (moratorium logging) yaitu menghentikan sementara seluruh aktivitas penebangan hutan seperti yang disarankan Walhi. Dan yang lebih penting adalah menghukum seberat-beratnya para pembalak hutan yang selama ini bukan saja telah merugikan negara, tetapi juga telah banyak merusak sumber daya alam dan lingkungan hidup. Selama ini, hampir jarang, para pembalak liar dan perusak hutan dihukum berat, sehingga orang tidak takut lagi menebang hutan.
|