banner
banner
banner
Rabu, 8 September 2010
mimbar

  Tajuk Detail Artikel Tajuk  
 

Jumat, 30 Maret 2007

Makna Maulid Nabi

Oleh : Sok Jie Lie



Kita berharap ada amaliah besar dari umat Islam Indonesia pada peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad saw. kali ini.

PERISTIWA lahirnya Nabi Besar Muhammad saw atau -- masyarakat di pedesaan sering menyebut -- Maulid Nabi kerap diperingati oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia dan di beberapa negara. Di Karachi, Pakistan, misalnya pada tahun lalu (2006) acara peringatan Maulid Nabi di sebuah masjid menelan korban 29 orang meninggal dunia. Mereka berdesak-desakan di dalam masjid yang tidak luas tersebut.

Di Indonesia, hingga kini, alhamdulillah belum pernah terjadi peringatan Maulid Nabi sampai menimbulkan jatuh korban gara-gara berdesak-desakan dan terinjak-injak di dalam masjid. Bahkan, ada beberapa masjid di Jabar yang justru ”sepi” ketika pengurus masjid (DKM)-nya menyelenggarakan acara peringatan Maulid Nabi. Mengapa sepi? Konon, karena pada saat yang bersamaan ada acara hiburan musik dangdut yang letaknya tak jauh dari masjid setempat.

Tradisi peringatan Maulid Nabi di Jabar khususnya, tampaknya tak jauh berbeda dengan di daerah lainnya. Jika pun beda, hanyalah pada ”penampilan” atau ”kemasan” acaranya, seperti selain ceramah ada juga selingan perlombaan seni, olah raga, dan lomba yang bernuansa olah pikir (lomba pidato, debat, dsb.).

Sungguh, fenomena ”sepi”-nya kaum Muslimin dalam acara peringatan Maulid Nabi dan ramainya -- kaum Muslimin juga -- pada acara hiburan dangdut, sebenarnya sudah merupakan cerminan betapa ”rendahnya” penghargaan umat Islam terhadap Nabi Besar Muhammad saw. Artinya, jangankan bicara soal sejauh mana mencontoh keteladanan Nabi Besar Muhammad saw., untuk datang dan mendengar ceramah pada peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad saw. cenderung segan.

Fenomena lainnya adalah rendahnya minat umat Islam -- khususnya generasi muda -- mengkaji dan memetik makna sejarah Nabi Besar Muhammad saw. Padahal, Nabi Besar Muhammad saw merupakan tokoh terbesar dalam sejarah tokoh ternama dan terkenal di dunia.

Ya, kita mencatat setidaknya pernah ada satu buku yang menulis tentang Nabi Besar Muhammad saw sebagai tokoh paling berpengaruh di peradaban dunia. Sayangnya, buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu -- dan sempat best seller serta dijadikan tema ceramah di berbagai tempat oleh almarhum Mahbub Junaidi -- kini sudah langka di pasaran.

Demikian halnya peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad saw yang diselenggarakan di berbagai instansi pemerintah di Indonesia -- antara lain di Istana Negara -- setiap tahunnya, menurut sejumlah pengamat keagamaan konon terkesan ”kering” dari ruhiyah. Seandainya hal itu benar, tentu ini merupakan catatan keprihatinan bagi bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim.

Betapa tidak, sosok Nabi Besar Muhammad saw sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah peradaban dunia, sudah sepatutnya diteladani oleh kaum Muslimin. Tentunya kita berharap, ada amaliah besar dari umat Islam Indonesia pada peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad saw kali ini.

 
Artikel lain :
KEMERDEKAAN BAGI ORANG DESA
Gerry
Perlindungan TKI
PR
Hari Guru
PR
Dugaan Suap
PR
mimbar

Copyright 2004 jagat-isu.info